News  

Bisnis Pakistan Bersiap Hadapi Kemerosotan pasca Eksodus Massal Warga Afghanistan 

Wartawan VOA, Sarah Zaman melaporkan dari pasar produk massal di Islamabad yang mengatakan, mayoritas warga Afghanistan adalah pedagang, pedagang kaki lima, dan pekerja kasar.

Pagi hari selalu ramai di pasar sayur dan buah-buahan dalam jumlah besar di ibu kota Pakistan, Islamabad. Ratusan ribu kotak produk diturunkan dari truk setiap hari dan dilelang untuk dijual ke seluruh kota.

Pasar sangat bergantung pada warga Afghanistan. Haji Nadir adalah pemilik bisnis di sana.

“Semua urusan kami adalah dengan saudara-saudara kami [Afghanistan]. Mereka juga bekerja sebagai buruh di sini. Ada yang membeli dari kami dan kemudian menjualnya. Hampir 77 persen yang terkait dengan bisnis ini adalah warga Afghanistan,” ungkapnya.

Namun banyak hal berubah. Pemerintah Pakistan memerintahkan warga Afghanistan yang tinggal tanpa dokumen agar meninggalkan negara itu secara sukarela pada tanggal 31 Oktober atau menghadapi tindakan keras mulai tanggal 1 November. Hal itu membuat pasar suram. Salah seorang pedagang, Abdul Waheed mengatakan, “Saya punya dua atau tiga peti kemas produk yang menunggu untuk dijual. Sudah 15 hari dan saya belum bisa menjual setengah peti kemaspun. Tidak ada pembeli.”

Hampir 1,7 juta warga Afghanistan, sebagian besar lahir di Pakistan, tinggal secara ilegal di negara itu, menurut data pemerintah. Para pejabat mengatakan, hampir 200.000 orang telah meninggalkan Pakistan dalam dua bulan terakhir, karena khawatir akan adanya tindakan keras.

Ketika para pengusaha Afghanistan memikirkan masa depan mereka, mitra Pakistan mereka seperti Najibullah, khawatir dengan investasi mereka yang jumlahnya mencapai ratusan ribu dolar.

“Kami tidak melakukan bisnis dengan uang tunai. Semuanya dalam bentuk kredit. Warga Afghanistan berutang uang kepada kami dan kami berutang kepada mereka,” ujarnya.

Karena khawatir ditangkap, banyak pekerja Afghanistan membolos kerja.

Nabi Khan bekerja sebagai portir. Keluarganya memiliki surat-surat lengkap, namun masih menunggu kartu tanda pengenalnya.

“Saya telah menghabiskan seluruh hidup saya di sini, dan sekarang saya menghadapi masalah ini. Mungkin saya akan terpisah dari keluarga saya,” keluhnya.

Karena kurangnya perlindungan sosial, warga Afghanistan melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan dengan upah yang rendah dibandingkan rekan-rekan mereka orang Pakistan. Para pedagang juga bergantung pada mereka untuk mempertahankan biaya tetap rendah.

Kurangnya tenaga kerja murah di Afghanistan berarti biaya berbisnis di sini bisa meningkat, dan hal itu bisa menaikkan harga produk bagi warga Pakistan yang menghadapi inflasi sangat tinggi.

Ketika warga Afghanistan berbondong-bondong pergi, maka semakin sulit mencari truk yang mengangkut hasil bumi, karena banyak kendaraan dipesan untuk mengangkut keluarga dengan barang-barang mereka.

Dengan meningkatnya jumlah warga Afghanistan yang pulang, dunia usaha di Pakistan bersiap menghadapi gangguan besar.

Lebih dari empat juta warga Afghanistan tinggal di Pakistan, sebagian besar dari mereka tinggal secara sah. Meskipun banyak di antara mereka pernah menghadapi tindakan keras dan perintah pengusiran pada masa lalu, pengusiran kali ini adalah upaya pemulangan terbesar di Pakistan. [ps/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com