News  

Daihatsu Tutup Pabrik di Jepang Selama Penyelidikan Uji Keselamatan Palsu

Daihatsu, anak perusahaan pembuat mobil Jepang Toyota Motor Corp., telah menutup jalur produksi di keempat pabriknya di Jepang sementara para petugas Kementerian Perhubungan menyelidiki pengujian yang tidak sepantasnyanya untuk sertifikasi keselamatan.

Penutupan pada hari Selasa (26/12) terjadi seminggu setelah Daihatsu Motor Co. mengumumkan pihaknya menangguhkan semua pengiriman kendaraan di dalam dan luar Jepang setelah menemukan pengujian yang tidak benar yang melibatkan 64 model. Ini mendorong Kementerian Perhubungan meluncurkan penyelidikan lebih dalam terhadap masalah itu yang tampaknya telah berlangsung puluhan tahun.

Penghentian ini diperkirakan akan berdampak pada ribuan pembuat suku cadang mobil itu dan karyawannya dan berpotensi memberikan pukulan terhadap perekonomian lokal.

Penyimpangan uji keselamatan awal tahun ini memicu penyelidikan panel independen, yang menemukan masalah yang meluas dan sistematis di Daihatsu. Ini adalah pelanggaran keselamatan atau pelanggaran terbaru lainnya yang ditemukan setidaknya di lima produsen mobil besar Jepang dalam beberapa tahun terakhir. Sejauh ini, belum ada laporan kecelakaan atau kematian akibat pengujian palsu tersebut.

Presiden Daihatsu Motor Soichiro Okudaira didampingi Wakil Presiden Eksekutif Toyota Motor Hiroki Nakajima, pada awal konferensi pers di Tokyo, Jepang, 20 Desember 2023. (REUTERS/Issei Kato)

Daihatsu, pembuat truk dan van Hijet serta hatchback Mira, mengatakan pihaknya mulai menutup beberapa jalur pada hari Senin dan produksi dihentikan di keempat pabrik di prefektur Shiga, Kyoto dan Oita serta di kantor pusatnya di Osaka pada hari Selasa. Perusahaan itu menolak mengatakan kapan produksi akan dilanjutkan, sementara laporan-laporan media mengatakan produksi akan dihentikan setidaknya hingga Januari.

Daihatsu merupakan unit Toyota yang mengkhususkan diri pada mobil kecil dan truk yang populer di Jepang. Perusahaan itu merakit sekitar 870,000 kendaraan di empat pabrik pada tahun fiskal 2022.

Menurut perusahaan riset pasar Teikoku Databank, pabrik Daihatsu memiliki rantai pasokan yang mencakup 8.136 perusahaan di seluruh Jepang, dengan total penjualan sebesar $15,53 miliar. “Semakin lama penangguhan pengiriman, semakin besar kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap pendapatan perusahaan, lapangan kerja, dan perekonomian lokal,” katanya dalam sebuah laporan.

Permasalahan tersebut ditemukan pada 64 model dan tiga mesin kendaraan, termasuk 22 model dan satu mesin yang dijual Toyota. Permasalahan tersebut juga ada pada beberapa model Mazda Motor Corp dan Subaru Corp yang dijual di Jepang, serta model Toyota dan Daihatsu yang dijual di luar negeri.

Penyelidikan Daihatsu menemukan 174 kasus baru penyimpangan dalam uji keselamatan dan prosedur-prosedur lain dalam 25 kategori pengujian, selain masalah-masalah yang dilaporkan sebelumnya.

Masalah ini muncul pada bulan April ketika Daihatsu melaporkan pengujian yang tidak tepat pada lapisan pintu. Masalah dalam pengujian tabrakan samping muncul pada bulan Mei, kata para pejabat. Ditemukan juga pemalsuan data dan penggunaan prosedur pengujian yang tidak sah.

Berbicara kepada wartawan pekan lalu, Presiden Daihatsu Soichiro Okudaira mengakui adanya kecurangan dalam pengujian dan prosedur keselamatan, dan mengatakan bahwa itu sama saja dengan mengabaikan sertifikat keselamatan. Ia mengaitkan permasalahan ini dengan tekanan terhadap pekerja untuk memenuhi tuntutan ambisius tenggat produksi yang ketat. [ab/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com