News  

Didera Sanksi, Perekonomian Rusia Tetap Tumbuh

Hampir 15 ribu sanksi dikenakan terhadap pemerintah Rusia, perorangan (individu), dan perusahaan beberapa bulan setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Namun, perekonomian Rusia terus tumbuh. Bantuan militer dari Korea Utara dan Iran yang ikut mendukung. Juga adanya beberapa rekayasa kreatif Rusia.

Analis Klaus Larres di Wilson Center mengatakan melalui Skype, “Rusia cukup kreatif dalam memanfaatkan semi-konduktor dari mesin seperti lemari es atau barang-barang rumah tangga lainnya. Mereka mencabut semi-konduktor dan chip pada barang-barang rumah tangga, lalu menggunakannya untuk peralatan militer.”

Banyak perusahaan juga memboikot Rusia. Dari merek Prada hingga IKEA dan LG. Lebih dari seribu merek membatasi kegiatan bisnis mereka di Rusia atau meninggalkan negara itu.

Rusia mengatasi semuanya itu, salah satunya dengan memperkuat hubungannya dengan China. Ekspor China ke Rusia tumbuh lebih dari 120 persen sejak tahun 2021. Sebagai imbalannya, minyak Rusia mengalir ke China.

Kenneth Pomeranz dari University of Chicago mengatakan, “Dari sudut pandang China, ada sisi ekspor dan impor. Dari sisi impor, mereka menjadi konsumen minyak dan batu bara Rusia terbesar di dunia.”

Sanksi negara-negara Barat telah membekukan aset Bank Sentral Rusia, menetapkan batas harga minyak Rusia, dan menutup wilayah udara UE untuk pesawat Rusia. Namun perekonomian Rusia terus tumbuh.

Vladimir Dashkeev dari Seattle Univercity mengatakan, “Kita perlu memuji Bank Sentral Rusia karena meskipun cadangan devisanya di luar negeri dibekukan, Bank Sentral tetap mampu menangani berita itu dan dengan cepat mengambil sejumlah langkah guna memperbaiki situasi.”

Rusia juga menghindari sanksi dengan membawa barang-barang dari negara-negara barat melalui negara-negara tetangga seperti Georgia, Belarus dan Kazakhstan.

Meskipun ada sanksi, Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Rusia untuk tahun ini, dari 1,1% menjadi 2,6%. [ps/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com