News  

Likuidasi Perusahaan China Evergrande Ditunda Hingga Januari

Pengadilan Hong Kong pada Senin (4/12) memutuskan bahwa raksasa properti Evergrande yang memiliki utang sangat besar, memiliki waktu hingga akhir Januari untuk menyusun rencana restrukturisasi, guna menghindari likuidasi. Keputusan tersebut memperpanjang batas waktu yang sebelumnya ditetapkan pada Desember.

Evergrande, yang pernah menjadi pengembang real estat terbesar di China, mengalami gagal bayar pada 2021 dan telah melaporkan kewajiban lebih dari $300 miliar. Kondisi ini menjadi simbol krisis properti China selama bertahun-tahun, yang memicu kekhawatiran akan perlambatan ekonomi lebih luas.

Para kreditor pada tahun lalu mengajukan petisi penutupan di Hong Kong terhadap China Evergrande Group, yang akan memulai proses likuidasi, tetapi kasus tersebut berlarut-larut ketika para pihak mencoba menengahi kesepakatan di luar pengadilan.

Hakim Linda Chan pada Senin menunda kasus tersebut hingga 29 Januari, dan menambahkan bahwa pengacara Evergrande harus melakukan “diskusi lebih langsung dengan otoritas terkait untuk mengonfirmasi” bahwa proposal restrukturisasi perusahaan “dapat dilakukan.”

Logo Evergrande pada bangunan tempat tinggal di Nanjing, di Provinsi Jiangsu timur, China. (Foto: AFP)

Perpanjangan pada Senin itu diberikan setelah sidang sebelumnya pada Oktober, di mana Chan mengatakan perusahaan China tersebut akan mendapat “penundaan terakhir” hingga 4 Desember sebelum dia menunjuk likuidator independen dari firma akuntansi KPMG.

Pada Maret, raksasa properti ini menawarkan pilihan kepada kreditor untuk menukar utang mereka dengan surat utang baru yang diterbitkan oleh perusahaan dan ekuitas di dua anak perusahaannya, Evergrande Property Services Group dan Evergrande New Energy Vehicle Group.

Pengacara Jose-Antonio Maurellet mengatakan pada Senin, bahwa Evergrande harus “menyesuaikan kembali atau menyusun ulang proposal tersebut” sejak sidang bulan Oktober.

Dia menambahkan bahwa dia “tidak yakin” dengan kemampuan keuangan kedua anak perusahaan tersebut.

“Tetapi mereka memperdagangkan saham, sehingga mereka mempunyai nilai,” kata dia.

Pada Senin saat sidang, saham Evergrande naik lebih dari 11 persen di bursa saham Hong Kong.

Jatuhnya Evergrande telah diawasi dengan ketat, karena pernah menjadi pilar utama perekonomian China, bagian dari sektor konstruksi dan properti negara itu yang menyumbang sekitar seperempat PDB China.

Pada akhir Juni, perusahaan diperkirakan memiliki utang sebesar $328 miliar. [ns/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com