News  

Penduduk Asli Hawaii Lestarikan Ladang Garam Suci

Pembuat garam dari 22 keluarga penduduk asli Hawaii berkumpul di bulan-bulan musim panas untuk membuat garam tradisional Hawaii, yang dianggap suci.

Kanani Santos, adalah seorang pembuat garam asli Hawaii yang mempelajari praktik ini dari ayahnya. “Menjadi pembuat garam itu sangat istimewa bagi saya. Ini membuat saya tetap terhubung dengan tanah ini, dan membuat saya tetap terhubung dengan tempat saya di dunia,” kata Santos.

Sebelum melangkah masuk ke ladang garam, Santos melepas sepatunya dan berdoa pada dirinya sendiri, memohon berkah dan jiwa yang tenang.

Garam ini dibuat dalam beberapa tahap. Para pembuat garam terlebih dahulu membersihkan area tersebut, kemudian mereka mulai membentuk bedengan. Menghaluskan tanah liat lama dengan bebatuan sungai dan membangunnya kembali dengan tanah liat hitam yang lebih baru.

Malia Nobrega-Olivera memperlihatkan foto kakek dan neneknya sedang membuat garam Hawaii, atau “paakai”, sambil duduk di Salt Pond Beach Park di Hanapepe, Hawaii, Minggu, 10 Juli 2023. (AP/Jessie Wardarski)

“Kami membersihkan sumur-sumur kami dan mengambil air dari dalamnya dan membawanya ke tempat dimana prosesnya dimulai. Dan setelah tiga bulan, kami memiliki lapisan kristal garam yang tebal,” urai Santos.

Namun selama dekade terakhir, ladang garam Hanapepe terancam akibat pembangunan, polusi dari pesawat dan helikopter yang terbang di dekatnya, erosi pasir dari kendaraan, dan sampah dari pariwisata di Salt Pond Beach Park, tepat di atas tanggul pasir itu.

“Tanah di sini memiliki unsur khusus. Dan saya biasanya berkata, Anda tahu, itu adalah rak garam. Ini lapisan tanah liat. Ada opae ula (udang air asin-red) di sini. Dan ada hal-hal lain yang memang hanya ada di sini. Jadi saya tidak bisa memindahkannya ke ladang yang lain,” kata Malia Nobrega-Olivera, seorang pembuat garam asli Hawaii.

Kakek Nobrega-Olivera berperan penting dalam membentuk kelompok keluarga pembuat garam yang disebut Hui Hana Paakai. Ia juga seorang pendidik dan aktivis yang memimpin upaya melestarikan tradisi berusia berabad-abad ini.

Dia juga mencatat bahwa ladang garam adalah bagian dari tanah yang diambil dari penduduk asli Hawaii, setelah penggulingan monarki Hawaii yang didukung AS pada tahun 1893.

Hamparan garam Hanapepe di pulau Kauai di Hanapepe, Hawaii, Selasa, 11 Juli 2023. Keberadaan hamparan garam ini terancam oleh perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, dan polusi. (AP/Jessie Wardarski)

Hamparan garam Hanapepe di pulau Kauai di Hanapepe, Hawaii, Selasa, 11 Juli 2023. Keberadaan hamparan garam ini terancam oleh perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, dan polusi. (AP/Jessie Wardarski)

Nobrega-Olivera dan keluarga lainnya mencari solusi untuk menyelamatkannya. Misalnya saja, mereka memblokir kendaraan yang hendak menuju ke pantai, yang menggerus tanggul pasir, yang melindungi ladang ini dari air pasang dan banjir.

“Kami ingin terus berbagi ruang dengan semua orang,” kata Nobrega-Olivera. “Jadi itulah mengapa kami berpikir, oke, mari kita blokir agar semua batu besar ada di sini. Parkir mobilnya di sana. Dan seiring berjalannya waktu, kami telah melihat tanggul ini pulih secara alami.”

Bagian penting dari praktik budaya dan spiritual ini adalah selalu memberikan garam, tidak pernah dijual. “Ketika ayah saya mengatakan kepada saya, bahwa adalah tanggung jawab kami untuk memberikannya, itu adalah kata-kata yang sangat kuat dalam jiwa saya,” kata Santos.

Kekanemekala Taniguchi, putra Tina Taniguchi, menghaluskan tanah liat hitam basah ke dinding lapisan garam di petak garam Hanapepe di Hanapepe, Hawaii, Rabu, 12 Juli 2023. (AP/Jessie Wardarski)

Kekanemekala Taniguchi, putra Tina Taniguchi, menghaluskan tanah liat hitam basah ke dinding lapisan garam di petak garam Hanapepe di Hanapepe, Hawaii, Rabu, 12 Juli 2023. (AP/Jessie Wardarski)

Ia yakin mereka membuat “kupuna” atau leluhur merasa bangga dengan tetap menghidupkan praktik tradisional ini.

Orang Hawaii juga menggunakan garam itu dalam masakan, penyembuhan, ritual dan sebagai perlindungan.

Nobrega-Olivera dan yang lainnya melengkapi upaya pelestarian ini, dengan menghormati tanah tersebut melalui syair dan lagu baru, atau “mele,” tentang garam yang akan mereka wariskan kepada generasi mendatang. [ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com