News  

Perkantoran di AS Sepi Akibat Tren Kerja Jarak Jauh; Bank-Bank Kecil Terimbas

Konsep bekerja “di mana saja, tak harus di kantor” yang menjadi tren di Amerika Serikat (AS) mengakibatkan gedung-gedung perkantoran menjadi sepi. Tren itu menimbulkan kekhawatiran terkait penurunan nilai properti dan risiko kerugian bagi pemilik properti yang memiliki pinjaman. Ujung-ujungnya tren itu dapat makin menekan bank-bank skala kecil.

“Akan ada bank bangkrut, tapi ini bukan bank-bank besar,” kata Ketua bank sentral AS, Federal Reserve, Jerome Powell pada Kamis.

Di San Francisco, Washington, dan bahkan New York, jumlah orang yang bekerja di kantor hanya separuh dibandingkan sebelum pandemi. Para pekerja kantoran enggan untuk kembali bekerja.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbicara dalam sidang Komite Jasa Keuangan DPR mengenai “Laporan Kebijakan Moneter Semi-Tahunan Federal Reserve” di Capitol Hill di Washington, AS, 6 Maret 2024. (Foto: REUTERS/Bonnie Cash)

Tingkat kekosongan kantor di seluruh negeri meningkat menjadi 13,5 persen pada 2023 dari 9,5 persen pada 2019. Angka tersebut diperkirakan bisa merayap naik mencapai 16,6 persen pada akhir tahun depan, kata perusahaan kredit Fitch Ratings dalam laporan yang dilansir pada Desember.

“Di banyak kota, kawasan perkantoran di pusat kota sangat sedikit sekali penggunanya,” kata Powell dalam sidang Kongres minggu ini.

Powell juga menambahkan bahwa kosongnya gedung perkantoran dari segala ukuran di sejumlah kota membuat para penjual menjadi tertekan.

Penurunan Nilai

Perubahan pola kerja menyebabkan sektor real estat komersial kehilangan sepertiga dari nilainya. Perubahan tersebut bahkan dapat berdampak lebih luas.

Gedung Bank Sentral AS, di Washington, Jumat, 25 April 2014. (Foto: AP)

Gedung Bank Sentral AS, di Washington, Jumat, 25 April 2014. (Foto: AP)

Menurut Mortgage Bankers Association, sekitar seperempat dari total hipotek properti perkantoran senilai $737 miliar, atau sekitar $206 miliar, akan jatuh tempo pada tahun ini.

Namun hal ini terjadi ketika suku bunga berada pada titik tertinggi dalam lebih dari 20 tahun.

Artinya, ketika pinjaman sudah jatuh tempo, pinjaman tersebut perlu dibiayai kembali karena tingkat kekosongan di beberapa kota tinggi dan nilainya pun lebih rendah.

Di AS, pinjaman komersial harus dinegosiasi ulang setiap tiga hingga lima tahun.

Menurut kepala ekonom EY, Gregory Daco, risiko ini menghasilkan “reaksi berantai’. Sektor perbankan dapat “menghadapi risiko default dari para peminjam mereka, yang kemudian mengakibatkan tekanan pada modal mereka.

Kubah Capitol AS terlihat dari Gedung Kantor Senat Russell di Capitol Hill di Washington, AS, 19 April 2023. (Foto: REUTERS/Sarah Silbiger)

Kubah Capitol AS terlihat dari Gedung Kantor Senat Russell di Capitol Hill di Washington, AS, 19 April 2023. (Foto: REUTERS/Sarah Silbiger)

Sejumlah Tekanan

Penasihat Ekonomi Nasional Lael Brainard mengatakan kepada wartawan baru-baru ini bahwa ia memperkirakan akan terjadi “tekanan”, tetapi bukan “implikasi yang lebih luas terhadap sistem keuangan.”

“Kita berbicara tentang properti perkantoran yang tingkat kekosongannya tinggi karena perubahan pola penggunaan kerja,” tambahnya.

“Ini adalah kelas sempit dalam real estate komersial yang lebih luas,” kata Brainard.

Daco mengatakan meskipun perusahaan-perusahaan besar memiliki kapasitas untuk menyerap sejumlah kerugian, hal ini dapat menjadi pukulan besar bagi bank-bank kecil.

Dana pensiun atau perusahaan asuransi, antara lain, juga dapat terkena dampak jika mereka memiliki bangunan komersial dalam portofolionya.

Bank-bank ini mungkin lebih rentan karena mereka tidak tunduk pada persyaratan peraturan yang sama seperti bank.

Efek Domino

Powell menekankan bahwa Federal Reserve bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang menghadapi risiko dengan mengatakan, “Kami telah mengidentifikasi bank-bank berfokus tinggi pada sektor real estat komersial, terutama di perkantoran dan ritel.”

“Kami sedang berdialog dengan mereka,” tambahnya.

“Jika properti dijual dengan harga lebih rendah dari perkiraan lembaga keuangan, hal ini dapat memicu efek domino, menyebabkan bank menilai kembali potensi kerugian yang mereka alami saat menjabat dan ketentuan kerugian kredit yang diperlukan untuk menutupi kerugian tersebut,” kata Ryan Sweet, Chief US. ekonom di Oxford Economics.

Uang kertas dolar AS terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 17 Juli 2022. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Uang kertas dolar AS terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 17 Juli 2022. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Hal itu adalah salah satu kelemahan yang dihadapi Komunitas Bancorp New York ketika sahamnya anjlok minggu lalu.

Pada Januari, dilaporkan bahwa perusahaan telah mengalokasikan dana sebesar $185 juta untuk kuartal yang baru berakhir, karena menurunnya kualitas portofolio pinjaman real estat mereka.

Sejak itu, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari $1 miliar dari para investor yang dipimpin oleh perusahaan mantan menteri keuangan AS, Steven Mnuchin.

Gubernur Federal Reserve Michelle Bowman memperingatkan bulan lalu tentang situasi yang lebih luas bahwa “jika kita tidak melihat lebih banyak orang kembali ke kantor dan bekerja, ini akan menjadi masalah jangka panjang.” [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com