News  

Perubahan Iklim dan Pemanenan Berlebihan Hantam Bisnis Tiram di Texas

Industri tiram di Texas berpotensi menghasilkan $30 juta atau lebih setiap tahunnya, namun tidak untuk dua tahun terakhir. Alasan utamanya, pihak berwenang menutup sebagian besar operasi pemanenan tiram.

Beberapa hari sebelum musim panen dimulai, Departemen Taman dan Margasatwa Texas menutup sekitar 20 area pemanenan tiram umum di Teluk Meksiko. Mereka hanya membiarkan empat kawasan di Teluk Galveston dan dua kawasan di Teluk Matagorda terbuka untuk para pemanen tiram.

Hasil panen tiram di Teluk Galveston sendiri terbilangg sangat mengecewakan, kata Romeo Bilcic, nelayan yang sudah 41 tahun menggeluti bisnis tiram.

“Anda tahu, panen tiram semakin buruk setiap tahunnya. Tiramnya tidak ada di sini. Hasil tangkapan kami sangat buruk,” jelasnya.

Keputusan pihak berwenang menutup area penangkapan tiram sangat beralasan. Kekeringan dan badai ekstrem baru-baru ini yang dipicu oleh perubahan iklim, serta pemanenan berlebihan, menurunkan habitat tiram secara signifikan, sehingga menurunkan populasi yang bisa dipanen.

Rata-rata tahunan tiram yang ditangkap di Teluk Galveston telah menurun dari sekitar 730 tiram per jam antara tahun 2000 dan 2003 menjadi sekitar 220 tiram pada tahun 2019 hingga 2022.

Pemanen tiram Romeo Bilcic dan Juan Soto Vasquez menyaring bebatuan dan cangkang untuk menemukan tiram di Teluk Galveston, Texas, AS, 2 November 2023. (REUTERS/Evan Garcia)

Zach Olsen, ahli biologi di Departemen Taman dan Margasatwa Texas, mengatakan, perubahan iklim mempengaruhi populasi tiram karena bisa mengubah konsentrasi garam di perairan terumbu karang.

“Kami melihat kekeringan dan curah hujan berdampak negatif terhadap terumbu karang di mana tiram biasanya hidup. Tiram menyukai salinitas sedang. Hujan yang terlalu banyak bisa menurunkan salinitas, sementara kekeringan bisa meningkatkan salinitas,” sebutnya.

Olsen mengatakan, perubahan salinitas ini bisa menurunkan luasan habitat tiram yang pada akhirnya menurunkan populasinya.

Pada tahun 2017, hujan lebat dan banjir yang disebabkan oleh Badai Harvey menurunkan salinitas air. Sedangkan dalam dua musim panas terakhir, Texas mengalami kekeringan ekstrem, yang memicu peningkatan salinitas air.

Air yang terlalu asin dan hangat, kata pakar biologi kelautan Jennifer Pollack, bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada tiram. Walhasil, katanya, tiram yang sakit tidak bisa tumbuh dengan baik dan tidak mampu bereproduksi.

Pemanenan yang berlebihan juga menurunkan populasi tiram. Pemanenan berlebihan, menurut Pollack, sering disertai praktik-praktik tidak bertanggungjawab yang merusak terumbu karang demi mengutamakan produksi. Pahadal, kesehatan terumbu karang tidak mudah dipulihkan sehingga penyusutan hamparannya secara otomatis mengurangi luasan habitat tiram. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com