News  

Petani Polandia Protes Uni Eropa terkait Impor dari Ukraina

Melemparkan bom asap dan melakukan pembakaran, ribuan petani yang marah berdemo di Warsawa pada Rabu (6/3), menolak aturan Uni Eropa dan impor komoditas murah dari Ukraina. Polisi melaporkan dua petugasnya terluka dan lusinan demontran telah ditahan.

Sejumlah demontran mencoba untuk menerobos pagar pengaman dan masuk ke halaman gedung parlemen, menurut polisi. Para petani juga melakukan pemblokiran dengan traktor di jalan-jalan di seluruh wilayah negara itu.

“Tindakan mengancam keselamatan petugas kami, termasuk melemparkan batu-batu ke arah mereka, tidak bisa diabaikan,” kata polisi di platform X.

“Sejumlah petugas polisi telah terluka. Saat ini, 12 orang telah ditahan,” tambah mereka.

Petani Polandia telah memblokir pelintasan perbatasan dengan Ukraina sejak bulan lalu untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai kompetisi tidak adil dari komoditas yang masuk dari Ukraina.

“Saya ingin memproduksi makanan yang sehat, tetapi kita justru mengimpor produk yang kualitasnya lebih rendah dari produk kita, dan kami tidak bisa bersaing dari segi harga,” kata Jan Kepa, yang memiliki lahan pertanian di Polandia bagian barat daya.

“Kami masih punya harapan, tetapi kami telah melakukan protes selama lebih dari satu bulan dan sampai saat ini tidak ada jalan keluar yang memuaskan bagi kami,” kata dia kepada AFP.

Sektor pertanian Ukraina telah lumpuh karena serangan Rusia pada 2022. Banyak jalur ekspor negara itu melalui Laut Hitam telah diblokir dan lahan pertanian dibiarkan menganggur karena perang.

Dalam sebuah upaya untuk membantu Ukraina dalam sektor ekonomi, Uni Eropa pada 2022 menghapus tarif bagi barang-barang Ukraina yang dikirim ke 27 negara anggota blok tersebut.

Tetapi, karena berbagai persoalan logistik, membuat banyak komoditas biji-bijian ekspor Ukraina yang seharusnya dikirim ke negara-negara non Uni Eropa, menumpuk di Polandia, memperlemah para produsen lokal.

Penutupan perbatasan dan sengketa terkait komoditas biji-bijian menciptakan ketegangan diantara negara-negara tetangga, bahkan ketika Polandia telah menunjukkan dukungan kuat bagi Ukraina sejak invasi Rusia.

Para petani di sejumlah negara Eropa lain juga melakukan protes selama berminggu-minggu terkait kondisi ini.

Pendemo dari Warsawa, Tomasz Stachow, yang memiliki pertanian di Polandia bagian selatan, mengatakan kepada AFP bahwa dia ingin “hidup dengan martabat di atas segalanya”.

“Dan pada saat ini, harga-harga ada di bawah biaya produksi,” kata dia, sambil mencela UU “kesepakatan hijau” Uni Eropa yang bertujuan mendukung upaya blok tersebut mencapai tujuannya terkait perubahan iklim.

“Ini semua adalah aturan-aturan yang konyol dimana para petani harus mematuhinya, yang hanya akan membuat situasinya lebih buruk dan meningkatkan biaya produksi dan harga-harga produk,” tambah dia.

Perdana Menteri Donald Tusk mengatakan pekan lalu, bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan upaya penutupan sementara perbatasan dengan Ukraina terkait masuknya barang-barang.

Pada Senin, dia meminta Uni Eropa untuk menerapkan sanksi penuh terhadap impor pangan dan pertanian dari Rusia dan Belarus – sebuah proposal yang didukung oleh Ukraina.

Tusk mengatakan sanksi Uni Eropa akan membuat mereka berkesempatan untuk “mendukung lebih efektif pasar pertanian dan pangan Uni Eropa” dan “membuka sepenuhnya kemungkinan-kemungkinan untuk ekspor produk Ukraina.. ke negara-negara ketiga”.

Tusk akan mengadakan pembicaraan dengan petani Polandia pada Sabtu nanti. [ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com