News  

Siapkah SDM Indonesia Mengisi Lapangan Kerja Hijau?

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan, ekonomi hijau di Indonesia akan menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru di tahun 2030, dengan kualifikasi pekerjaan ramah lingkungan alias green jobs.

Green jobs sendiri, menurut hasil pendefinisian Indonesia’s Green Jobs Conference 2022, adalah pekerjaan yang berkontribusi untuk melestarikan atau memulihkan lingkungan.

Namun demikian, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal pekerjaan ramah lingkungan. Hal itu setidaknya tergambar melalui hasil studi Yayasan Indonesia Cerah dan Suara Mahasiswa UI (SUMA UI) tahun 2023, di mana 55 persen responden mahasiswa kurang dan belum familiar dengan konsep pekerjaan hijau.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani mengatakan, “Tentunya ini jadi tantangan mendasar untuk menciptakan awareness soal green jobs itu sendiri untuk mendorong sumber daya manusia mengembangkan diri dan menyiapkan skills yang dibutuhkan agar bisa memenuhi kebutuhan green jobs,” ungkapnya melalui pesan suara kepada VOA (28/12).

Shinta menuturkan, setidaknya ada lima sektor yang menjadi fokus ekonomi hijau, yaitu energi baru terbarukan, pertanian, manufaktur, pariwisata dan konstruksi. Ia mengutip peta okupasi nasional green jobs yang disusun pemerintah Indonesia dan Jerman bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN).

Akan tetapi, ia menambahkan, sebenarnya industri apa pun bisa beririsan dengan pekerjaan ramah lingkungan, sesuai dengan strategi berkelanjutan yang diterapkan perusahaan, baik untuk melindungi ekosistem, mengurangi energi, materi dan konsumsi air, hingga mencegah limbah dan polusi.

Pemuda dan aktivis yang memegang spanduk dan plakat ambil bagian dalam “Aksi Iklim Global” untuk memprotes perubahan iklim di Jakarta, 3 Maret 2023.

Yang menjadi tantangan utama bagi kalangan pengusaha, menurutnya, adalah mengembangkan strategi melalui penciptaan lapangan kerja ramah lingkungan yang menyeimbangkan keuntungan (profit), masyarakat (people) dan planet – bukan hanya mencari laba, seperti prinsip ekonomi konvensional.

Shinta Kamdani juga menambahkan, “Kemudian PR-nya bagaimana? Tentunya mempersiapkan SDM dengan green skills, yaitu link and match dengan sektor pendidikan hingga program vokasi diperlukan untuk mempersiapkan skill green jobs.”

Menurut jajak pendapat Persepsi Mahasiswa terhadap Peluang dan Tantangan Pekerjaan Hijau (Green Jobs) yang dilakukan Yayasan Indonesia Cerah dan SUMA UI, sebenarnya mayoritas responden meyakini bahwa pekerjaan hijau bisa berdampak positif pada lingkungan dan masyarakat (98%) dan bahwa anak muda memegang peranan penting (99%).

Pemerhati sekaligus konsultan pendidikan Ina Liem menyadari hal itu. Ia mengatakan, generasi muda saat ini memiliki wawasan dan kepedulian lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya berkat pendekatan berwawasan lingkungan di jenjang pendidikan dasar dan menengah, yang sayangnya tidak berlanjut hingga ke bangku pendidikan sarjana.

Ina mengatakan, “Saya amati sekolah-sekolah itu banyak sekali proyek-proyeknya justru tentang ramah lingkungan, tapi tidak berlanjut justru ke tingkat perguruan tinggi. Di perguruan tinggi itu ada lompatan (gap), mulai ada ditawarkan, tapi di jenjang S2 dan S3, kalau di jenjang S1 belum,” ungkap Ina kepada VOA (28/12).

Bijih nikel mentah diangkut truk di salah satu lokasi penambangan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, 28 Juli 2023.

Bijih nikel mentah diangkut truk di salah satu lokasi penambangan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, 28 Juli 2023.

Menurutnya, sedikitnya ada tiga keahlian yang harus dikuasai untuk mempersiapkan sumber daya manusia ke depan, yaitu keahlian untuk mengambil keputusan berdasarkan data (data driven), memecahkan masalah secara efektif (design thinking) serta menerapkan prinsip keberlanjutan (sustainability). Akan tetapi, ia belum melihat adanya kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia yang menyerap sekaligus ketiga keahlian utama tersebut lintas disiplin ilmu.

Meski demikian, ia mengapresiasi inisiatif pemerintah melalui program Kampus Merdeka, yang menurutnya mengakomodasi kebutuhan tersebut dengan mengizinkan mahasiswa mengambil tiga semester di luar program studi, di mana salah satu mata kuliah yang ditawarkan adalah pola pikir sustainability.

Ia pun mendorong institusi pendidikan tinggi untuk segera menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman.

Kembali, Ina Liem menjelaskan, “Kalau dari sisi minat anak mudanya kita on track, karena minat atau demandnya sudah tinggi sekali, tapi dari pihak kampus yang menurut saya perlu berlari lebih cepat untuk memenuhi demand dari anak muda yang sudah sangat peduli lingkungan.”

Pada kesempatan terpisah (1/1), konsultan keberlanjutan dan perubahan iklim Faiza Fauziah setuju bahwa kesadaran mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi tentang isu lingkungan dan perubahan iklim kini semakin tinggi. Namun dari pengamatannya, kalangan industri lah yang memegang peran penting untuk mengembangkan pekerjaan hijau.

“Yang sebenarnya punya role banget untuk menyerap banyak tenaga kerja adalah di perusahaan. Kalau saya melihatnya begitu. Sebenarnya kalau dari sisi mahasiswa atau lulusan baru itu lebih fluid, lebih bisa menyesuaikan. Karena kalau kita melihat lulusan baru, waktu mereka masuk ke perusahaan, tidak semuanya bisa diaplikasikan kan ilmu-ilmu yang didapat dari kampus, dan dibentuknya tuh pas mereka bekerja atau menyesuaikan di perusahaan tersebut,” kata Faiza.

Farahvicka Maulida, mahasiswi jurusan arsitektur di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, berharap dunia industri mau memberikan pelatihan mengenai pekerjaan hijau kepada tenaga kerjanya. Ia sendiri tertarik untuk bergabung dengan biro arsitektur yang memiliki fokus pada aspek sustainability setelah lulus nanti.

“Untuk berkembangnya sektor sustainability dalam pekerjaan yang akan terus meningkat di tahun-tahun ke depannya, menurut saya perlu adanya suatu standardisasi agar tenaga-tenaga kerja tersebut bisa disebut pantas untuk bekerja di sektor green jobs sendiri,” ujarnya.

Sementara bagi Ibrahim Fata, mahasiswa arsitektur lain di kampus yang sama dan sudah menggeluti isu pelestarian lingkungan sejak SMP, berharap dapat mempelajari lebih dalam ilmu arsitektur dengan pendekatan keberlanjutan di jenjang berikutnya.

“Mungkin karena S1 nggak terlalu fokus, lebih kayak kita pengembangan pola pikir saja. Cuma memang beberapa dosen menyelipkan isu-isu green architecture. […] Jadi memang rencananya nanti setelah S1 ini saya mau berkarir dulu 1-2 tahun, setelah itu saya mau ngikutin jejak kakak saya yang kuliah di luar negeri. Jadi mungkin kalau di luar negeri lebih gampang ya untuk mempelajari itu,” tukasnya.

Studi Yayasan Indonesia Cerah dan SUMA UI menemukan bahwa 80 persen responden menyarankan agar isu pengembangan pekerjaan hijau perlu jadi prioritas kebijakan politik di Indonesia dan 90 persen responden meminta perguruan tinggi mengadopsi kurikulum yang berkaitan dengan krisis iklim dan pekerjaan hijau.

Sementara itu, dalam peta okupasi nasional green jobs, dari 191 okupasi atau pekerjaan hijau yang terdapat pada lima area fungsi kunci (pertanian, manufaktur, konstruksi, energi terbarukan, dan pariwisata) dan area fungsi kunci lintas sektor, baru 70 pekerjaan yang sudah memiliki standar kompetensi. [rd/em]

Sumber: www.voaindonesia.com