News  

Sri Lanka Percepat Pakta Perdagangan dengan Thailand di Tengah Krisis

Sri Lanka yang didera utang sedang berusaha mempercepat upaya mewujudkan pakta perdagangan yang macet dengan Thailand. Seorang menteri negara itu, Selasa (14/2), mengatakan langkah itu diambil untuk meningkatkan perdagangan dan pariwisata, dan memperbaiki kekurangan mata uang asing yang telah menyebabkan krisis ekonomi terburuk.

Sri Lanka memulai pembicaraan dengan Thailand tentang perjanjian perdagangan bebas pada 2016. Kedua negara mengadakan dua putaran diskusi pada 2018, dan terakhir bulan lalu. Namun juru bicara pemerintah Bandula Gunawardena mengatakan telah terjadi “penundaan besar” dan Sri Lanka kini bertekad untuk menandatangani perjanjian itu sebelum akhir Maret.

Pakta perdagangan itu bertujuan untuk meningkatkan perdagangan dua arah dari $550 juta menjadi $1,5 miliar.

Sri Lanka juga sedang melakukan pembicaraan dengan negara tetangga India dan China untuk mencapai kesepakatan perdagangan. Negara ini bangkrut dan telah menangguhkan pembayaran utang luar negerinya sebesar $51 miliar, dengan $28 miliar di antaranya harus dilunasi pada tahun 2027.

Gunawardena mengatakan perjanjian dengan Thailand akan membantu Sri Lanka meningkatkan perdagangan, pariwisata dan investasi serta membantu mengatasi kekurangan mata uang asingnya.

Sri Lanka telah mencapai kesepakatan awal dengan Dana Moneter Internasional mengenai paket penyelamatan senilai $2,9 miliar selama empat tahun. Penyelesaiannya bergantung pada jaminan restrukturisasi utang dari kreditur yang mencakup China, India, dan Paris Club, sebuah kelompok negara kreditur utama. [ab/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com