News  

Terbuka untuk Bisnis, PM China Ajak Kerja Sama Global

Perdana Menteri China Li Qiang mengatakan pada Selasa (16/1) bahwa ekonomi China terbuka untuk bisnis dan menyoroti potensinya untuk investasi asing. Ia menekankan perlunya menghilangkan hambatan dalam persaingan dan perdagangan untuk mengatasi tantangan global.

Dalam menghadapi pemulihan yang lambat pasca-pandemi dan penurunan sektor real estat, keprihatinan mengenai prospek pertumbuhan jangka panjang China muncul di kalangan eksekutif asing untuk pertama kalinya sejak pembukaan negara tersebut membuka diri terhadap investasi asing pada empat dekade yang lalu.

Dalam pertemuan dengan Li, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menekankan para pemimpin China juga perlu mengambil tindakan terhadap ketidakseimbangan perdagangan antara Eropa dan China, katanya dalam sebuah wawancara.

Li mengatakan dalam pidato kunci kepada para pemimpin bisnis di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos bahwa ekonomi China telah pulih dan meningkat, dan diperkirakan tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2023, di atas target resmi sekitar 5 persen.

Perdana Menteri China Li Qiang (Kiri) dan Presiden Swiss Viola Amherd berjabat tangan selama kunjungan resmi di Kehrsatz, dekat ibu kota administratif Swiss, Bern pada 15 Januari 2024. (Foto: AFP)

Dia mengatakan bahwa perekonomian China membuat kemajuan yang stabil, mampu mengatasi pasang surut kinerjanya, dan akan terus memberikan dorongan global. Ia menambahkan bahwa kecenderungan pertumbuhan jangka panjang secara keseluruhan tidak akan berubah.

Li, yang memimpin delegasi pemerintah besar di WEF pada minggu ini, adalah pejabat tertinggi China yang berhubungan dengan para elite bisnis dan politik global yang digelar di resor ski Swiss ini sejak masa pemerintahan Presiden Xi Jinping pada 2017.

Li mengatakan bahwa persaingan yang sehat adalah kunci untuk meningkatkan kerja sama dan inovasi. Ia menekankan bahwa dunia perlu menghilangkan hambatan dalam persaingan dan bekerja sama dalam strategi lingkungan dan pertukaran ilmiah internasional.

Li juga menyoroti pentingnya menjaga rantai pasok global yang “stabil dan lancar”.

Dalam pidatonya di Davos, Li juga menyoroti adanya kesenjangan antara Utara dan Selatan yang semakin tajam, yang katanya semakin akut, dan menekankan perlunya kerja sama dalam pembangunan.

Li menyatakan bahwa China, yang memiliki populasi penduduk sebanyak 1,4 miliar orang yang tengah mengalami urbanisasi cepat, akan memainkan peran penting dalam meningkatkan permintaan global secara keseluruhan. Ia juga menegaskan bahwa China tetap “teguh berkomitmen” dlam membuka perekonomiannya dan akan menciptakan “kondisi yang menguntungkan” untuk berbagi peluang investasi.

“Memilih investasi di pasar China bukanlah sebuah risiko, tetapi sebuah peluang,” tambah Li.

Pernyataan Li pada masa lalu yang menyatakan bahwa China terbuka untuk bisnis dianggap skeptis oleh sejumlah pelaku bisnis mengingat penerapan Undang-Undang Antispionase yang lebih luas, penggerebekan terhadap konsultan dan perusahaan pemeriksaan, serta adanya larangan keluar, seperti yang diungkapkan oleh badan perdagangan.

“Kami akan mengambil langkah-langkah aktif untuk mengatasi kekhawatiran yang wajar dari komunitas bisnis global,” kata Li. Ia kemudian bertemu dengan para pemimpin bisnis dan keuangan termasuk CEO JP Morgan Jamie Dimon, CEO Bank of America Brian Moynihan, CEO Standard Chartered Bill Winters, dan CEO Blackstone Steve Schwarzman saat makan siang.

Para pelaku bisnis lama menyatakan kekhawatiran tentang regulasi yang semakin ketat di China dan kebijakan yang dianggap lebih menguntungkan bagi perusahaan milik negara. Pada kuartal Juli-September, China mencatat defisit pertama dalam investasi langsung asing sejak 1998. [ah/ft]

Sumber: www.voaindonesia.com