News  

Twitch Mundur dari Pasar Korsel karena Biaya Operasi yang Mahal

Twitch, sebuah layanan video populer, akan menutup bisnisnya yang sedang mengalami kesulitan di Korea Selatan, sebuah keputusan yang menurut kepala eksekutifnya akibat biaya operasi yang “sangat mahal” di negara tersebut.

Dalam postingan blog yang mengumumkan rencana perusahaan minggu ini, Dan Clancy mengatakan biaya jaringan yang dibayarkan perusahaan kepada operator internet Korea Selatan 10 kali lebih besar dibandingkan dengan di sebagian besar pasar lainnya. Ia tidak memberikan angka spesifik untuk mendukung klaim tersebut.

“Kami telah membuat keputusan sulit untuk menutup bisnis Twitch di Korea Selatan pada 27 Februari 2024,” kata Clancy dalam postingannya. Twitch mampu menurunkan biaya dengan membatasi kualitas video, katanya, namun “biaya jaringan kami di Korea masih 10 kali lebih mahal daripada di sebagian besar negara lain.”

Twitch, platform yang populer di kalangan penggemar video game, menurunkan kualitas layanan videonya di Korea Selatan ke resolusi 720p dari 1080p pada September 2022, dengan alasan kebutuhan untuk mengurangi biaya.

Belakangan pada tahun itu, mereka memblokir streamer Korea Selatan untuk mengunggah konten video-on-demand.

FILE – Logo perusahaan VOD dan video game streaming Twitch, di Tokyo Game Show, 21 September 2018. (BIRO Martin / AFP)

Tindakan tersebut menuai keluhan keras dari para penggunanya di Korea Selatan dan diperkirakan telah mendorong banyak orang untuk beralih ke layanan lain seperti YouTube atau situs streaming Korea Selatan seperti Afreeca TV.

Twitch kemungkinan besar akan menghadapi persaingan yang lebih ketat di Korea Selatan tahun depan karena Naver, perusahaan internet domestik terbesar, dilaporkan berencana meluncurkan layanan streaming langsung untuk liga video game online.

Rencana penarikan diri dari Korea Selatan adalah tanda terbaru dari kesulitan bisnis yang dialami Twitch, yang pada bulan Maret mengumumkan bahwa mereka memecat 400 karyawannya, dengan mengatakan bahwa “pertumbuhan pengguna dan pendapatannya tidak sesuai dengan ekspektasi kami.”

“Twitch telah mengalami kerugian yang signifikan di Korea, dan sayangnya tidak ada jalan ke depan agar bisnis kami dapat berjalan lebih berkelanjutan di negara tersebut,” tulis Clancy dalam postingan blognya.

Perusahaan-perusahaan telekomunikasi Korea Selatan yang mengoperasikan jaringan internet dalam beberapa tahun terakhir telah berselisih dengan penyedia konten global seperti Network dan Google, yang mengeluhkan biaya yang terlalu tinggi. Ada konflik serupa antara perusahaan-perusahaan tersebut dan penyedia internet di Eropa.

FILE - Aplikasi logo Twitch di layar tablet, 24 Juli 2019. Platform streaming game langsung yang berbasis di AS, Twitch, 6 Desember 2023 mengatakan akan menghentikan layanannya di Korea Selatan pada bulan Februari karena biaya jaringan yang "sangat" tinggi. (BIRO Martin / AFP)

FILE – Aplikasi logo Twitch di layar tablet, 24 Juli 2019. Platform streaming game langsung yang berbasis di AS, Twitch, 6 Desember 2023 mengatakan akan menghentikan layanannya di Korea Selatan pada bulan Februari karena biaya jaringan yang “sangat” tinggi. (BIRO Martin / AFP)

Pada bulan September, Netflix mengatakan telah mencapai kesepakatan dengan SK Broadband, penyedia internet Korea Selatan, untuk mengakhiri perselisihan hukum mengenai biaya jaringan. Perusahaan itu tidak merilis persyaratan penyelesaian mereka.

Jung Sang-wook, pejabat dari Asosiasi Operator Telekomunikasi Korea, sebuah lobi industri yang terdiri dari para penyedia telekomunikasi besar di negara itu, mengatakan ia tidak memiliki cara untuk memverifikasi klaim Clancy tentang biaya jaringan, yang dinegosiasikan secara individual antar perusahaan dan ditutup dengan perjanjian rahasia.

“Layanan serupa seperti Afreeca TV telah memperoleh keuntungan, jadi keputusan Twitch mungkin didasarkan pada masalah manajemen perusahaan yang lebih luas,” kata Jung. Asosiasi tersebut pada bulan Oktober mengeluarkan pernyataan tahun lalu yang mengkritik keputusan Twitch untuk menurunkan resolusi videonya, dengan mengatakan bahwa hal tersebut menyebabkan banyak pengguna mengeluh kepada para penyedia telekomunikasi yang “menyediakan layanan dengan lancar tanpa masalah.” [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com