News  

UE akan Bahas Rencana Penggunaan Aset Rusia yang Dibekukan untuk Persenjatai Ukraina

Brussels akan mengusulkan kepada negara-negara Uni Eropa (UE) untuk menggunakan pendapatan dari aset-aset Rusia yang dibekukan, diperkirakan bernilai tiga miliar euro per tahun, untuk membantu mempersenjatai Ukraina, kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa pada Selasa (19/3).

Komisi Eropa, Rabu (20/3), akan menyampaikan rencananya kepada negara-negara anggota menjelang pertemuan puncak 27 pemimpin UE yang sebagian berfokus pada dukungan untuk Kyiv.

Kepala kebijakan luar negeri Josep Borrell mengatakan proposal tersebut memperkirakan 90 persen keuntungan yang diperoleh dari aset-aset tersebut akan disalurkan ke dana yang digunakan untuk menutupi biaya persenjataan untuk Ukraina. Sepuluh persen sisanya akan masuk ke anggaran UE untuk digunakan membantu meningkatkan kapasitas industri pertahanan Ukraina sendiri.

“Jika negara-negara anggota setuju, maka akan ada sekitar tiga miliar euro per tahun yang dapat diperoleh dari pendapatan aset-aset yang dibekukan,” kata Borrell.

Dorongan UE untuk mendapatkan lebih banyak dana bagi Ukraina muncul ketika paket dukungan $60 miliar dari AS, pendukung utama Ukraina lainnya, masih diblokir di Kongres.

Berkurangnya pasokan senjata selama dua tahun berlangsungnya perang telah menyebabkan pasukan Ukraina kalah di garis depan dan kesulitan menghentikan kemajuan yang dicapai pasukan Rusia.

UE membekukan sekitar 200 miliar euro aset-aset bank sentral Rusia yang disimpan di blok tersebut sebagai hukuman setelah Moskow menginvasi negara tetangganya itu pada Februari 2022.

Sekitar 90 persen dari dana tersebut disimpan oleh organisasi simpanan internasional Euroclear, yang berbasis di Belgia.

Negara-negara UE telah berselisih selama berbulan-bulan mengenai apa yang harus dilakukan terhadap aset-aset Rusia itu, di tengah seruan dari beberapa negara anggota dan sekutu Barat lainnya untuk bertindak lebih jauh dan menyita seluruh dana untuk nantinya membiayai pembangunan kembali Ukraina.

Negara-negara seperti Jerman ragu-ragu untuk menyentuh dana yang dibekukan di UE itu karena khawatir akan merusak kepercayaan investor terhadap pasar Eropa.

Borrell mengatakan Bank Sentral Eropa telah dimintakan pandangannya mengenai proposal tersebut dan sekarang saatnya bagi negara-negara anggota untuk mengambil keputusan sementara perang di Ukraina mencapai tahap kritis. “Musim panas akan menjadi masa kritis,” katanya.

“Rusia menyerang posisi Ukraina setiap hari untuk melemahkan mereka dan ketika musim semi dan musim panas tiba, kita akan melihat peningkatan aktivitas militer.” [my/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com